Tahapan Bermain – Bagaimana Membantu Anak Mengembangkan Keterampilan Sosial
Anak-anak senang bermain, dan jika Anda berpikir bahwa anak Anda hanya melakukan sesuatu secara acak untuk menghabiskan waktu, itu tidak benar. Seorang anak dapat belajar banyak tentang imajinasi dan kreativitas di berbagai tahap kehidupan. Telah terbukti dan didokumentasikan dengan baik bahwa permainan memainkan peran penting dalam perkembangan anak secara keseluruhan. Mari kita mengenalkan Anda lebih jauh tentang konsep bermain sambil membahas berbagai tahapan bermain dan juga berbicara tentang bagaimana hal itu membantu mengembangkan keterampilan sosial anak.
Tahapan Penting Bermain dalam Perkembangan Anak Anda
Setiap orang tua menginginkan anaknya tumbuh menjadi dewasa yang bertanggung jawab dan beradaptasi dengan baik, yang memiliki persahabatan dan hubungan yang bermakna dalam hidupnya. Untuk itu, kita perlu mengajarkan mereka tentang keterampilan sosial. Tapi bagaimana caranya? Hal pertama yang perlu diingat adalah bahwa keterampilan ini bukanlah genetik, artinya anak Anda tidak dilahirkan dengan keterampilan ini, oleh karena itu anak Anda perlu memperoleh keterampilan ini. Dan Anda dapat banyak membantu anak Anda untuk mencapai hal tersebut. Berikut adalah tahapan penting dalam bermain dan usia yang terkait dengannya.
1. Bermain Tanpa Aktivitas
Tahap ini biasanya dimulai sejak lahir hingga bayi Anda berusia dua tahun.
Pernahkah Anda melihat si kecil hanya berbaring dan tidak melakukan apa-apa? Bagi Anda, mungkin ia hanya berbaring saja, tetapi sebenarnya ia mencoba mengamati hal-hal di sekitarnya. Mungkin tampak bahwa bayi atau anak kecil tidak banyak melakukan apa-apa, tetapi sebenarnya mereka melakukan banyak hal. Bayi Anda mungkin asyik menghubungkan berbagai hal dalam pikirannya. Ia mungkin mencoba menempatkan berbagai benda dan mencoba menghubungkannya satu sama lain. Pada tahap ini, satu-satunya interaksi sosial yang mungkin dilakukan bayi Anda adalah tersenyum kepada orang tua. Namun, semua pengamatan dan eksplorasi ini dapat membantu meletakkan dasar untuk tahap selanjutnya.
2. Bermain Mandiri atau Sendirian
Anak-anak yang berusia antara satu hingga tiga tahun cenderung bermain sendirian. Bermain sendirian berarti seorang anak mungkin bermain sendiri dengan mainannya.
Pada tahap ini, si kecil mungkin asyik bermain sendiri dengan mainannya atau benda lain. Orang tua mungkin kadang bertanya-tanya mengapa bayi mereka tidak mau bermain dengan saudara kandung atau anak-anak lain. Tetapi anak-anak pada tahap ini mungkin tidak memperhatikan atau mengindahkan orang lain saat mereka asyik bermain. Pada usia ini, kemampuan kognitif dan motorik bayi mulai berkembang. Ia mungkin juga sedang berusaha mengasah keterampilan sosialnya. Tahap ini penting dalam kehidupan seorang anak karena mengajarkan anak pentingnya merasa bahagia dan puas dengan dirinya sendiri.
3. Permainan Penonton atau Pengamat
Tahap ini biasanya terjadi pada anak usia balita, tetapi juga dapat terjadi pada tahap kehidupan anak mana pun.
Pada tahap ini, seorang anak biasanya belajar dengan mengamati anak-anak lain atau kakak-kakaknya. Ia mungkin bermain dengan mereka atau tidak, tetapi ia mungkin sangat tertarik untuk melihat hal-hal atau aktivitas yang dilakukan anak-anak lain. Ini biasanya terjadi ketika anak tersebut sedikit pemalu dan ragu-ragu terhadap orang lain. Ia mungkin tidak tahu bagaimana cara bermain dengan orang lain. Pada tahap ini, seorang anak tidak menyadari apa yang diharapkan darinya atau apa aturan permainan, dan sebagainya. Hal-hal ini mungkin membuatnya khawatir, sehingga ia mungkin tidak mau bermain dengan teman-temannya. Namun, pada tahap ini, ia memahami melalui pengamatan.
4. Permainan Paralel
Tahap permainan ini biasanya terlihat pada anak-anak berusia antara 2,5 hingga 3,5 tahun.
Bermain paralel adalah ketika seorang anak bermain di ruangan yang sama dengan anak-anak lain, tetapi tidak bermain bersama. Pada tahap ini, seorang anak mungkin bermain dengan mainan yang sama atau bahkan melakukan hal yang sama dengan anak-anak lain, tetapi tidak bersama-sama. Ini adalah usia di mana anak-anak belajar tentang perilaku sosial dan juga tentang kematangan sosial. Hal ini juga meletakkan dasar untuk tahap bermain selanjutnya.
5. Permainan Asosiatif
Tahap permainan ini paling sering terlihat pada anak-anak berusia 3 hingga 4 tahun.
Ini adalah tahap di mana anak-anak mulai bermain berdekatan, tetapi tujuan mereka mungkin tidak sama. Anak-anak suka bermain di sekitar satu sama lain, namun, mereka mungkin tidak bermain bersama. Misalnya, anak Anda mungkin bermain di taman yang juga terdapat anak-anak lain, tetapi ia mungkin tidak bermain dengan mereka. Mereka semua mungkin melakukan berbagai jenis aktivitas. Tahap ini membantu anak untuk mengembangkan kemampuan pemecahan masalah dan perkembangan bahasanya . Ini juga mengajarkan mereka tentang kerja sama.
6. Bermain Kooperatif
Tahap permainan ini diamati pada anak-anak berusia 4 hingga 6 tahun.
Pada tahap ini, anak-anak mulai tertarik bermain dengan anak-anak lain atau sekelompok anak. Pada tahap ini, anak mulai tertarik pada apa dan dengan siapa ia bermain. Tahap bermain ini dapat disebut sebagai puncak dari semua tahapan bermain karena semua keterampilan yang dipelajari dari tahapan sebelumnya diterapkan. Hal ini membantu anak dalam mempelajari banyak hal tentang interaksi sosial.
Peran 6 tahapan bermain dalam perkembangan anak tidak dapat diremehkan, oleh karena itu, dukung anak Anda melalui tahapan-tahapan ini untuk membantunya belajar dengan lebih baik.


Leave a Reply